Jumat, 29 April 2011

Precious ONE from wei_cheng_tseng on Vimeo.

Ini adalah kisah tentang persahabatan antara kamera dan lampu bohlam. Mereka bekerja bersama sebagai partner. Si kamera, dia bagian meng-capture setiap momen, sementara si bohlam bagian ngasih cahaya untuk meneranginya. Suatu hari, ada tamu misterius yang muncul dalam hidup mereka. Mereka sibuk mengejar si tamu itu dengan penuh semangat dan menghadirkan suasana yang cukup seru. Tapi hal itu justru membawa mereka pada rasa kehilangan yang amat mendalam.

Losing someone we love is painful, but somehow the loss denotes what we have loved. The loss reveals to us who is truly our precious one.

The film was done by 2 undergraduate students.

music by 呂諾

Rabu, 20 April 2011

transfer pendapatan dlm fenomena joki 3 in 1

Joki dalam fenomena 3 in 1

Dalam perjalanan rumah-kantor atau sebaliknya, gw selalu senang mengamati pemandangan, sebenernya c ga seneng2 amat, cuman karena udah pusing sama macet yang bikin gw tua di jalan, so gw lebih baik memanfaatkan waktu dengan merenungi apa yang terjadi di luar sanah. Dan pemandangan yang amat sangat mencolok saat perjalanan adalah teng...teng...teng....yup.. joki. Amat sangat miris melihat banyaknya orang baik tua muda berdiri di pinggir jalan sambil menarik perhatian mobil yang kira2 tertarik untuk membawanya. Melihat itu, gw terpikir "ini orang2 kerjanya apa ya?? setelah jam2 3 in 1 berlalu, apakah yg mereka kerjakan?? enak banged ya kerjanya cuma pagi dan sore, udah gitu sekali dibawa kena tarif 20 ribu, cukup lah untuk makan sehari kalau emang hidup single (belum berkeluarga)" andaikan tiap pagi dan sore dia dapet mobil yang mau membawanya, maka dalem sehari penghasilannya 40 ribu. Yah cukup untuk makan sehari per orang. Setelah gw pikir2 ternyata enak banged yah hidup begitu. Secara mikro, emang keperluan hidup sehari-hari memang tercover dengan asumsi mereka hidup sendiri. Namun sekali lagi, jika dihitung secara makro, jika mereka bekerja 4 jam dalam sehari, maka dalam hitungan kantor, tersisa 4 jam yang masih bisa dimanfaatkan seseorang dalam bekerja. Apabila diasumsikan satu orang dalam satu jam bisa menghasilkan 10 ribu. Maka sisa 4 jam tersebut masih bisa menghasilkan 40ribu, dan bayangkan berapa orang yang berbaris di jalan. Sepanjang jalan sebelum masuk kawasan 3 in 1, kira2 bisa diratakan sekitar 100 orang, maka jika diakumulasikan 40ribu dikalikan seratus orang, maka secara makro akan kehilangan gdp sebanyak 4juta, yah mungkin agak kecil jika dibandingkan penghasilan orang menengah ke atas, namun bagi kalangan menengah ke bawah, angka tersebut lumayan untuk mengurangi beban hidupnya. Agak miris namun jika direnungkan lebih mendalam terdapat peristiwa transfer pendapatan atau keuntungan antara kalangan menengah ke bawah dengan kalangan menengah ke atas. Artinya dalam peristiwa tersebut terjadi simbiosis mutualisme antara kalangan menengah ke bawah dengan kalangan menengah ke atas. Kalangan atas memerlukan joki agar terhindar kawasan 3 in 1, sedangkan kalangan bawah yang emang nganggur membutuhkan uang untuk makan, sehingga terjadilah transfer pendapatan sekitar 20 ribu untuk sekali jalur antara kalangan menengah ke atas dengan kalangan menengah ke bawah. Dalam putaran ekonomi, sebenernya transfer tersebut merupakan proses menuju keseimbangan dalam mengurangi kesenjangan pendapatan. Namun sayangnya, kegiatan transfer ini berlangsung dalam kegiatan yang negatif. Memanfaatkan celah dari hukum yang telah dibuat. Entah kenapa gw pun jadi bingung sendiri?? sebenernya celah2 yang selalu dimanfaatkan tiap2 orang dalam mengakali hukum yang berlaku udah nunjukin kalau manusia itu memang kreatif dan unik, namun.... sekali lagi sangat disayangkan kreativitasnya disalurkan pada jalur yang negatif dan bukan positif. Andaikan transfer pendapatan yang terjadi pada fenomena joki tersebut dapat diubah dalam bentuk lain??? mungkin saja kesenjangan pendapatan yang terjadi di Indonesia dapat segera secara perlahan walaupun lambat bisa teratasi. Minimal maju perlahan dibandingkan tidak maju sama sekali atau bahkan berkurang.

*t*

Jumat, 08 April 2011

The Journey

Here's a video downloaded from youtube,, menurut gua ini bagus banget.. please enjoy

Jadi inget kisahnya Hachiko.. really touching,, beneran dah gua membanjir banget waktu liat filmnya.. apalagi ngebayangin kisah sebenernya.. huaaaa tambah membanjir bandang deh gua
He left us with such incredible lesson... T_T

[iRa0y]

Sabtu, 02 April 2011

khusus perokok

Ini dari kisah pengalaman gua selama bolak balik naek krl ekonomi jakarta-bogor dan sebaliknya. Well, jujur ajah, beberapa hari belakangan ini gua emang ilfeel,, lebih lebih karena tu gerbong suka berasa bau asep rokok. Kan gua kesel ajah kalo nyampe kantor ato nyampe rumah, terus baju gua jadi kena bau2 asep. Emang setiap orang punya hak asasi masing2, termasuk buat menikmati rokok, tapi toh gua juga punya hak asasi buat ngirup udara segar, bebas asap rokok.
Soal ini, sebenernya pernah beberapa kali gua naek krl ekonomi di st.bogor, di gerbong ujung paling belakang, di situ lumayan masih ada tempat duduk yang kosong. Tapi, bapak2 di sebelah gua bilang, "silahkan mbak.. tapi asal tahan asep rokok ajah, soalnya di gerbong sini banyak perokok". Ok, gw pikir, "nice, mereka sebenernya punya aturan gak tertulis yang kayak semacem 'janjian' kalo perokok adanya gerbong paling belakang". Nah, menurut gua, ide itu lumayan juga buat kayak bikin2 'smoking area' di krl ekonomi (waloupun sebenernya pemerintah lagi berusaha ngilangin budaya merokok di fasilitas umum). Tapi ini better lah, daripada para perokok itu seenaknya ngerokok dimana2, dan asepnya nyebar kemana2..
Bayangkan,,, kasarnya buat gua, "selama lu gak ganggu gua, gua gak peduli. lu mau ngebul, ngebul sana di paling belakang biar asepnya langsung kebawa angin gak kena yang laen". Jadi, kalo mau ngerokok ya gak usah bagi2 asep ama yang non-smoker.. Gak usah tanggung2 lah bayar buat beli rokok, jangan cuman diabisin antidepresannya, tapi abisin tuh semua ama asep2nya...