Joki dalam fenomena 3 in 1
Dalam perjalanan rumah-kantor atau sebaliknya, gw selalu senang mengamati pemandangan, sebenernya c ga seneng2 amat, cuman karena udah pusing sama macet yang bikin gw tua di jalan, so gw lebih baik memanfaatkan waktu dengan merenungi apa yang terjadi di luar sanah. Dan pemandangan yang amat sangat mencolok saat perjalanan adalah teng...teng...teng....yup.. joki. Amat sangat miris melihat banyaknya orang baik tua muda berdiri di pinggir jalan sambil menarik perhatian mobil yang kira2 tertarik untuk membawanya. Melihat itu, gw terpikir "ini orang2 kerjanya apa ya?? setelah jam2 3 in 1 berlalu, apakah yg mereka kerjakan?? enak banged ya kerjanya cuma pagi dan sore, udah gitu sekali dibawa kena tarif 20 ribu, cukup lah untuk makan sehari kalau emang hidup single (belum berkeluarga)" andaikan tiap pagi dan sore dia dapet mobil yang mau membawanya, maka dalem sehari penghasilannya 40 ribu. Yah cukup untuk makan sehari per orang. Setelah gw pikir2 ternyata enak banged yah hidup begitu. Secara mikro, emang keperluan hidup sehari-hari memang tercover dengan asumsi mereka hidup sendiri. Namun sekali lagi, jika dihitung secara makro, jika mereka bekerja 4 jam dalam sehari, maka dalam hitungan kantor, tersisa 4 jam yang masih bisa dimanfaatkan seseorang dalam bekerja. Apabila diasumsikan satu orang dalam satu jam bisa menghasilkan 10 ribu. Maka sisa 4 jam tersebut masih bisa menghasilkan 40ribu, dan bayangkan berapa orang yang berbaris di jalan. Sepanjang jalan sebelum masuk kawasan 3 in 1, kira2 bisa diratakan sekitar 100 orang, maka jika diakumulasikan 40ribu dikalikan seratus orang, maka secara makro akan kehilangan gdp sebanyak 4juta, yah mungkin agak kecil jika dibandingkan penghasilan orang menengah ke atas, namun bagi kalangan menengah ke bawah, angka tersebut lumayan untuk mengurangi beban hidupnya. Agak miris namun jika direnungkan lebih mendalam terdapat peristiwa transfer pendapatan atau keuntungan antara kalangan menengah ke bawah dengan kalangan menengah ke atas. Artinya dalam peristiwa tersebut terjadi simbiosis mutualisme antara kalangan menengah ke bawah dengan kalangan menengah ke atas. Kalangan atas memerlukan joki agar terhindar kawasan 3 in 1, sedangkan kalangan bawah yang emang nganggur membutuhkan uang untuk makan, sehingga terjadilah transfer pendapatan sekitar 20 ribu untuk sekali jalur antara kalangan menengah ke atas dengan kalangan menengah ke bawah. Dalam putaran ekonomi, sebenernya transfer tersebut merupakan proses menuju keseimbangan dalam mengurangi kesenjangan pendapatan. Namun sayangnya, kegiatan transfer ini berlangsung dalam kegiatan yang negatif. Memanfaatkan celah dari hukum yang telah dibuat. Entah kenapa gw pun jadi bingung sendiri?? sebenernya celah2 yang selalu dimanfaatkan tiap2 orang dalam mengakali hukum yang berlaku udah nunjukin kalau manusia itu memang kreatif dan unik, namun.... sekali lagi sangat disayangkan kreativitasnya disalurkan pada jalur yang negatif dan bukan positif. Andaikan transfer pendapatan yang terjadi pada fenomena joki tersebut dapat diubah dalam bentuk lain??? mungkin saja kesenjangan pendapatan yang terjadi di Indonesia dapat segera secara perlahan walaupun lambat bisa teratasi. Minimal maju perlahan dibandingkan tidak maju sama sekali atau bahkan berkurang.
*t*
hmmm..
BalasHapuskesenjangan sosial, kesenjangan pendapatan..
iya bener juga three in one merupakan cara yang unik mengatasi kesenjangan pendapatan.
Tadinya gw berpikir, tujuan three in one kan supaya ngga banyak mobil di jalan. Salah satu cara selain three in one ya dengan meningkatkan oajak barang mewah yaitu mobil dan pajak itu digunakan untuk membangun jasa angkutan umum lain misal kereta api. Tapi kalau pajaknya digedein tapi ujung-ujungnya dimakan oknum kayak om Gayus ya ngga ada gunanya juga.. bener juga tuh klo three in one bisa memeratakan pendapat, mungkin lebih efektif dari menaikkan pajak.
hmmm... sebenernya gini c manik, gw tdk menyarankan agar joki ini salah satu cara u mengurangi kesenjangan pendapatan, tp justru gw menyayangkan knp justru transfer pendapatan yg terjadi justru pd kasus2 yg menyimpang dr aturan yg dibuat. Kayak kasus 3 in 1 ini, kan awalnya dibuat u memenimalisir kendaraan pribadi yang ada u mengatasi kemacetan. Tp yang terjadi justru malah diakalin sm orang2 yg emang saling membutuhkan. Artinya transfer pendapatan justru terjadi pada sesuatu yg negatif. Nah dari sini menandakan sebenernya manusia itu kreatif, nah kenapa transfer pendapatn ga dibuat ajah diseseuatu yang sifatnya positif.
BalasHapusHmmm... kl mengenai pajak kendaraan bermotor, sebenernya pemungutan untuk pajak itu udah lumayan baik, maksudnya udah ada pajak progresif bagi pemilik kendaraan bermotor. Dan pajak ini pun menjadi salah satu primadona sumber pendapatan provinsi terutama jakarta. Namun, yang amat disayangkan dari sekian banyaknya pendapatan pajak yg masuk, alokasi untuk infrastruktur cuman 10%. Gimana ga macet coba?? kl supply jalan atau transportasi massalnya ga seimbang sm jumlah kendaraan yg sekarang tumbuh makin pesat??
Hihihi emang pusing ya Tey,,
BalasHapusIya yah, kreatif bgt sampe ada cara mengakali aturan, well seengganya ngga langsung melanggar aturan :D
Iya sarana transportasi dan jumlah kendaraan yang ngga seimbang ya.. Alias supply demand nya ga balance. Klo gitu emang kudu ngebatasin demand dan nambah supply, ya ga? Maksudnya ngebatesin kendaraan di jalan sama menambah perbaikan sarana.
Iyah, iyah maksud gw pajak buat ngebatesin kendaraan bermotor yang ada. Biar ga banyak mobil di jalan gitu te, selain fungsi pajak 'untuk memeratakan pendapatan bla bla' seperti yang dulu gw apalin waktu SMA haha. Di Jepang sono, ngga banyak mobil, jadi ya ngga macet2 amat, mungkin karena pajak mobil plus pajak parkirnya yang ngga nahan. Di suatu tempat di tokyo, parkir itu bisa sampai 500 yen per 30 menit alias 50rb per 30 menit, gimana orang ga milih jalan kaki atau naik kereta. Trus klo kita salah parkir aja ditangkep polisi. Selain itu anehnya lagi klo kita kan three in one ya, klo disana malah klo mobil kecil yang ngangkut lebih dari 4 orang itu ditilang, dan ditilangnya lumayan..
Yah, di Indonesia, mungkin lebih gampang buat punya mobil. Itu sebabnya makin maceeeet hehe